Saturday, April 4, 2015

Inspirasi Soimah




Gayanya luwes, suaranya cemengkling. Tapi suara yang terdengar empuk itu tiba-tiba berubah menjadi berat layaknya seorang rocker. Begitulah, salah satu aksi Soimah Pancawati, 29 tahun, sebagai sinden di acara televisi “Segeerr Benerrrr”. Perempuan kenes itu memang sudah menyinden sejak di kelas I sekolah menengah karawitan di Bantul, Yogyakarta.

Namun Soimah menolak disebut sinden sejati. Sepak terjangnya belum mumpuni disebut begitu. Apalagi sudah hampir setahun ini dia terjun ke dunia hiburan di Jakarta. Jadilah Soimah “sinden” acara komedi di salah satu stasiun televisi swasta itu. Selain ikut dalam alur cerita, Soimah melantunkan lagu-lagu yang liriknya diubah sesuai dengan skenario cerita.

Soimah ditawari mengisi program itu lantaran kemampuan menyindennya. Tapi dia memang berniat berkarier di dunia seni hiburan. Kemampuannya sebagai sinden kini tidak terlampau ditekuninya lagi, karena ia ingin bernyanyi seperti sekarang.

“Kalau nyinden terus, sulit menyanyi dengan gaya kontemporer,” katanya kepada Tempo di sela-sela shooting, Kamis lalu di kawasan Cawang, Jakarta.

Soimah tak ingin jadi kacang yang lupa akan kulitnya. Baginya, sinden adalah modalnya berkarier. Maka, ketika berada di Yogyakarta (dia kerap bolak-balik Yogyakarta-Jakarta), Soimah kerap berkumpul dengan rekan-rekan komunitas seni yang membesarkannya.

Dunia seni budaya tradisional memang telah akrab dengannya sejak kecil. Rumah orang tuanya di Banyutowo, Pati, Jawa Tengah, kerap dijadikan “markas” ketoprak tobong yang berpentas di dekat rumahnya. Ibu Soimah, yang berjualan makanan, menjadi langganan para pemain ketoprak.

“Mereka kerap ngutang sama ibu,” katanya. Kehadiran pergelaran itu membawa rezeki bagi Soimah kecil. Setiap pagi dia mencari uang penonton yang jatuh. “Lumayan, dapat Rp 300-500,” kata dia.

Soimah juga memiliki bakat menari dan menyanyi. Setiap kali ada perayaan kemerdekaan Indonesia, Soimah kerap manggung. Dia luwes membawakan lagu-lagu dangdut.

Bakat seni Soimah mendapat perhatian dari bibinya, Ngatini, yang mengasuh Padepokan Tari Bagong Kussudiarjo, Yogyakarta. Lulus SMP, Soimah diboyong ke Kota Gudeg itu. Ngatini memasukkannya ke sekolah menengah karawitan. Sayang, jurusan tari telah penuh. Soimah mengambil jurusan karawitan, tapi ia tak kecewa karena dapat berlatih tari di padepokan Bagong.

Jurusan itu mengakrabkan Soimah dengan dunia pewayangan. Selain sinden, dia mahir bermain kendang. Wajahnya yang cantik menarik perhatian kakak kelasnya yang seringmanggung. Soimah pun diajak berpentas.

Kerap manggung di luar kota membuat kelompok Soimah butuh mobil sewaan. Rupanya, ada adik kelasnya di jurusan tari bernama Herwan Prandoko yang memiliki bus. Selain Soimah mendapat harga khusus, Herwan bisa diminta jadi sopir. Sering bertemu, Herwan dan Soimah berpacaran. Akhirnya mereka menikah, delapan tahun yang lalu.

Soimah masih kurang puas dengan rutinitasnya. Dia memutuskan belajar seni di luar wayang. Dia bergabung dengan kelompok musik Acapella Mataraman, Kua Etnika, serta Keroncong Sinten Remen milik Djaduk Ferianto dan Romo Sindhunata. Foto Soimah bahkan jadi gambar sampul novel Putri Cina karya Romo.

Empat tahun yang lalu Soimah mengasah bakat aktingnya di Ketoprak Conthong Yogyakarta asuhan pelawak gaek Marwoto, yang juga bermain di ketoprak tobong ketika Soimah masih kecil. Ibu dua anak ini juga jadi pembawa acara “Klinong-Klinong Campur Sari” di salah satu stasiun televisi lokal.

Pengalaman menyinden seni tradisional mengasah kemampuan Soimah berkarier secara profesional. Dia tidak memilih-milih peran. “Saya sering dinilai bisa apa saja,” ujarnya. Soimah pun tak menolak jika ada tawaran main film. Dia ingin membuktikan bahwa sinden bukan hanya bisa duduk ndeprok (duduk melipat kaki, dengan pantat menindih telapak kaki) dan mengiringi dalang dalam pergelaran wayang. “Sinden itu tidak cuma ndeprok,” katanya.

l AKBAR TRI KURNIAWAN

Biodata

Nama: Soimah Pancawati
Lahir: Pati, 29 September 1980
Suami: Herwan Prandoko (dengan dua anak)
Pendidikan: Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Bantul, Yogyakarta.
Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (sampai semester VI)
Hobi: menari, menyanyi, teater
Penghargaan: juara I Bintang Televisi
Juara I Bintang Karaoke se-DIY-Jateng
Juara I Bintang Sinetron
Parade Tari Daerah se-Nusantara, wakil Yogyakarta “Megung Klawe”
Parade Tari Daerah se-Nusantara, wakil Yogyakarta “Sipitan”

No comments:

Post a Comment